Gold Clock

Senin, 13 Februari 2012

ASTAGA, GUE JATUH CINTA?! -Cerpen-

By. Dinda
*cerita ini hanya fiktif belaka*


***

Sore baru saja menyapa saat kakinya berderap menuruni tangga rumahnya. Tetangga sebelah. Ke situlah kaki-kakinya melangkah. Tidak sulit menemui sahabat sekaligus tetangganya itu. Jam setengah 4, jadwal rutin untuk membersihkan kereta mesinnya.

“DOR!” Teriak Rahma, tepat didepan telinga seorang pria yang sedang asik mengelap BMW 318i-nya.
“Astajiim... Rahma! Sialan, loe!” Makinya dengan kesal, ia melempar lapnya kedalam ember berisi air dan langsung menjambak rambut Rahma dengan kesal.
“Aduh! Ampun, Kak! Ampun... sori, sori!” Kata Rahma, sambil merapikan rambutnya. Pria itu berdiri dihadapannya dengan berkacak pinggang.
“Ikh, makanya jangan main-main sama gue!” Pria itu menoyor kepala Rahma pelan.
“Sori, Kak. Maaf... Eh, ada yang bisa gue bantu nggak?”
“Ada, ada banget.” Pria itu, yang tidak lain adalah Morgan menjawab dengan semangat.
“Apa tuh? Sini, gue bantu. Itung-itung, tanda maaf gue.”
“Noh, mandiin uler gue. Udah seminggu belum gue mandiin.”
“Idih? Ogah  ah! Kalo yang itu, sih, gue kagak mau!”

“Lah? Kan tadi loe sendiri yang nawarin bantuan, napa sekarang malah nolak?”
“Yaelah... Eh, Bang, kalo bantuin yang wajar-wajar aja, sih, gue juga mau! Ambilin ini, kek. Apa, kek. Lah ini? Mandiin uler? Kagak inget waktu uler loe itu nyelinap tanpa ijin ke kamar gue?!” Rahma bergidik ngeri, pikirannya menerawang kejadian 1 bulan yang lalu. Saat ular sanca bercorak kuning itu ditemukan melingkar dilantai kamarnya.
Morgan hanya tertawa melihat ekspresi Rahma, “Aduh, non, yang namanya nyelinap, mana ada yang peke ijin!” Ia kembali pada pekerjaan semula, mencuci mobil.
Rahma yang merasa diacuhkan, duduk didekat ember yang berisi air sabun itu.
“Eh, Kak, Abang loe mana?” Tanya Rahma. Matanya menengok kearah pintu rumah Morgan yang sedikit terbuka.
“Ada, bentar lagi juga keluar.” Jawab Morgan tanpa mengalihkan pandangannya.

Tidak lama kemudian, Rafael, orang yang dimaksud Rahma keluar dari rumah itu dengan mengenakan jaket berwarna hitam kesayangannya. Tangannya asik memutar-mutar kunci mobil. Ia tersenyum saat melihat Rahma.
“Eh, ada Rahma. Udah lama disini?” Tanya Rafael. Rahma sumringah, ia bangkit.
“Nggak, kok, Kak. Belum lama, Kakak mau kemana?”
“Mau jalan sama temen. Kakak pergi dulu, yah!” Rafael masuk kedalam mobilnya, “Dah, Rahma!”
“Hati-hati, yah, Kak!” Rahma melambaikan tangannya dihadapan jendela mobil Rafael.
“Eh, Gan! Jangan lupa mandiin Sergio, yah!” Teriak Rafael.
“Siap, Kak!” Sahut Morgan. Lalu mobil Rafael perlahan menghilang ditelan tikungan jalan.

“Loe naksir sama Abang gue, yah?” Tanya Morgan, membuat Rahma sedikit terkejut.
Rahma menoleh, dan menatap Morgan dingin.
“Kenapa loe ngeliatin gue kayak gitu? Naksir, bilang!” Kata Morgan.
“Ha? Mamaaaaaa!!!!” Rahma berlari memasuki rumahnya seperti orang kesetanan.

***

“Kak Morgaaan!!! Abaaang!!!” Rahma berteriak didepan rumah Morgan seperti orang mengajak rusuh. Ia menggesek-gesekkan kakinya dan sesekali menendang kerikil dihadapannya. Morgan keluar dari rumah bercat biru itu dalam keadaan berantakan. Ia hanya mengenakan kaos oblong dengan celana selutut bercorak loreng. Ia menyipitkan matanya dan sesekali menguap.
“Apaan, sih, loe? Cari ribut loe didepan rumah gue?” Morgan bertanya jengkel, tidur siang indahnya terganggu oleh suara nyaring gadis itu.
“Lagi tidur, yah, Kak? Hehehe...” Ia nyengir.
“Bukan! Lagi main akrobat! Puas, loe? Ada apa, sih?” Morgan tidak beranjak sedikitpun dari teras rumahnya, membiarkan Rahma berdiri dibalik pagar.
“Ya Alloh... Bukain dulu napa pagernya, Kak!” Rahma menggoncang-goncangkan pagar besi itu.
“Woy! Jangan digituin, entar loe kagak dibolehin main kesini lagi ama nyokap gue!” Morgan melangkah membukakan pintu pagar buat Rahma.

“Si Cocoh ada?” Ia tersenyum.
“Astaga... Rahma! Kalo loe kesini nyariin si Cocoh, napa mesti manggilin gue, sih?!”
“Hush... jangan teriak-teriak!” Ia membekap mulut Morgan, “Ntar si Cocoh denger, bisa malu gue!” Ia celingak-celinguk memeriksa sekelilingnya, takut kalau-kalau Rafael mendengar pembicaraan mereka.
“Rafael kagak ada!” Morgan berbalik.
“Eh, kemana?”
“Kagak tau. Bilangnya mau pergi sama Kakak loe.”
“Sama Kakak gue? Kak Renata?”
“Yaelah... emangnya loe punya Kakak lagi selain Renata?!”
“Eh... terus loe mau kemana?”
“Mau tidur lagi, lah! Ngapain juga berdiri disini kayak orang kagak ada kerjaan.”
“Jangan! Temenin gue aja, yuk?!” Ajak Rahma.
“Ha? Kemana?”
“Walking walking...” Rahma nyengir, ia mengedip-ngedipkan matanya, merayu.
“Nggak ah. Nggak ada duit, gue.”
“Gue yang traktir, mau yah? Tapi pake mobil Kakak.”
“Bensin?”
“Tenang... gue yang beli.”
“Makan? Terus es krim?”
“Tenang... kalo cuma itu aja, gue masih mampu, kok.”
“Oke! Gue ganti baju dulu.”

***

Morgan mengendarai mobilnya dalam kecepatan sedang. Sedangkan Rahma, ia duduk manis disampingnya bak putri yang hanya tinggal duduk santai, maka akan sampai pada tujuannya. Mereka berhenti disebuah mall yang cukup besar.

“Kita kemana?” Tanya Morgan.
“Ehm... ketoko buku aja, yuk?!”
“Ha? Mau ngapain?”
“Ngapain, kek. Syukur-syukur kalo gue nemuin buku yang cocok buat si Cocoh.”
“Duileh... mentang-mentang, yah.”
“Hayo, ah. Jangan berdiri ditengah-tengah kaya gini.” Rahma menoleh sekelilingnya. Mereka memang berada tepat ditengah-tengah lobi mall itu.
“Ya udah, yuk!”

Mereka melangkah menuju lantai 2, toko buku langganan mereka. Namun, langkah Rahma berhenti, saat dilihatnya Rafael bersama Renata, sang Kakak, berdiri menghadapi etalase yang memajang beberapa perhiasan. Tapi itu... ah, Rahma baru sadar jika etalase itu memajang perhiasan yang terbuat dari emas putih.

“Kok, Kak Renata sama Kak Rafael...” Rahma meringis.
“Mereka pacaran?!” Morgan mengucek-ucek matanya, mencoba meyakinkan dirinya jika itu memang Rafael dan Renata.
“Kok, bisa...” Tanpa terasa, mata Rahma berkaca-kaca. Terlebih, saat dilihatnya Rafael memakaikan sebuah kalung dengan liontin beruang keleher Renata.
“Itu, kan, kalung beruang yang kemarin Kak Renata minta sama Mama... Kenapa jadi Kak Rafael yang beliin?”
“Loe nangis, Ma?” Morgan memandangnya bingung. Rahma menggeleng, meski air matanya telah mengalir.
“Kita pulang aja, Kak.” Rahma berbalik dan meninggalkan Morgan begitu saja.

Ia baru berhenti setelah sampai dipelataran parkir yang terletak dilantai 3. Lututnya lemas. Ia terduduk lemah sembari melipat kedua kakinya.
“Heu... heu... Kok, Kak Rafael tega sama gue? Emangnya dia nggak nyadar, yah, kalo sejak kecil, gue suka sama dia...” Ia menangis.
“Tuh, kan! Loe beneran suka sama Rafael.” Morgan tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakangnya.
“Nggak. Gue nggak suka sama dia!”
“Halah... tadi gue denger sendiri, kok.”
“Nggak usah bawel dan nggak usah sok tau, deh! Ayo pulang!”
“Kita belum makan es krim, Ma.”
“Bodo.” Jawabnya, sambil memasuki mobil tanpa memperdulikan Morgan yang masih bingung.

***

Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan lembut. Rahma tidak mengindahkannya, ia menutup kepalanya dengan bantal.
“Rahma...” Panggil Renata dengan pelan. Ia tidak menjawab.
“Rahma... kamu didalem, kan? Dipanggil Mama, tuh. Suruh makan.”
Rahma membuka pintu dengan kasar. Matanya yang tampak bengkak menatap Renata dengan tajam.
“Apa?!” Tanyanya, dengan ketus.
“Itu, dipanggil Mama, suruh makan.”
“Bilang sama Mama, gue nggak laper!”
Brak! Ia membanting pintu dengan keras.

Renata tidak menyerah, “Rahma... kamu kenapa, dek? Kamu sakit?”
“Gue nggak sakit!!” Teriak Rahma.
“Ya udah, terus kenapa?”
“Bukan urusan loe! Sana pergi!!!”
“Kok gitu, dek? Keluar dulu, yuk?! Kita ngobrol dulu...” Bujuk Renata.
“Nggak!!! Loe pasti lagi seneng karena baru jadian sama cowok! Mending loe pergi, deh!!”
“Rahma...”
“Gue bilang pergi! Jangan ngurusin gue! Urus aja urusan loe!!!”

***

Sementara itu, Rafael baru saja menutup laptopnya saat ponsel merahnya berdering.
Renata calling... segera ditekannya tombol hijau.
“Halo? Ada apa, Re?”
“Aku perlu ngomong sama kamu soal tadi sore itu.”
“Iya, kenapa emangnya?”
“Jadi gini...(bla bla bla bla bla)”

“Jadi gitu masalahnya, Raf.” Renata mengakhiri penjelasannya.
“Lho? Kok, jadi gini, sih?” Rafael menggaruk kepalanya.
“Iya, Raf. Aku juga bingung.”
“Ya udah, besok kita ketemu dikampus aja, yah.”
“Oke, thanks, Raf.”

***

“Kak Renata mana, Mah?” Tanya Rahma, pagi itu dimeja makan.
“Renata udah berangkat kekampus tadi pagi.” Jawab Mama.
“Kok, pagi bener?”
“Iya, ada urusan penting dikampus katanya. Oh iya, sore ini kamu ada jadwal les, kan?”
“Ada, Mah. Kenapa?”
“Nggak papa, Renata bilang, dia mau jemput kamu sore nanti.”
“Tumben?” Ucapnya, acuh.
“Nggak papa, lah... mungkin dia pengen nyenengin kamu kali.”
Rahma mengangkat bahu, “Maybe.”

“Kamu berangkat sekolahnya sama Morgan aja, yah? Rafael tadi udah berangkat bareng Renata soalnya.”
“Bodo.”
“Kok, gitu? Kamu lagi marahan sama dia?”
Hadeuh... ni nyokap kenapa, sih? Dari tadi bawel banget.
“Nggak. Biasa aja.”
“Yakin kamu?”
“Yakin. Lagian, udah beberapa hari ini Rafael sibuk terus.”
“Ya udah, makannya cepet abisin. Kamu nebeng aja sama Morgan. Toh, sekolah kamu sama kampusnya searah.”
“Iya.”

***

Langit sore itu kian mendung saat Rahma melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Ia berdiri sebentar dikoridor yang lengang. Kawan-kawannya sebagian besar telah pulang. Diam-diam Rahma gelisah menanti jam 5 sore. Ia mondar mandir dikoridor itu. Apa iya, Kak Renata bakal jemput? Ia semakin gelisah, saat diliriknya jam tangan secara jujur menunjukkan pukul 16.53.
Persetan dengan Kak Renata! Ngapain juga gue capek-capek nungguin dia disini? Mending juga gue hang out, kemana, kek! Gerutunya, dalam hati. Lalu ia pergi begitu saja dengan langkah kakinya yang berderap cukup keras dilantai.

Ia menuruni tangga dengan berhati-hati. Namun, ia terkejut saat melihat adegan ditengah tangga itu. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dihadapannya kini berdiri Kak Renata yang menyandarkan tubuhnya didinding bersama Rafael dihadapannya. Jarak mereka cukup dekat. Oh no!!! Rafael memakaikan kalung yang tempo hari dilihatnya di mall bersama Morgan. Apa-apaan nih? Mau pamer sama gue?!

“Jangan jadiin tempat les gue sebagai tempat mesum.” Tegur Rahma. Keduanya tampak terkejut dan segera berjauh-jauhan.
“Kalo mau pacaran, cari tempat lain!” Kata Rahma, ia berlalu melewati mereka begitu saja. Rafael mencegah lengannya.
“Ini nggak seperti yang kamu pikirin.” Kata Rafael.
Rahma tersenyum sinis, “Emangnya, menurut Kakak apa yang lagi aku pikirin?”
“Ehm...” Rafael terlihat bingung.
“Mendingan, kalian pulang sekarang sebelum ada satpam yang pergokkin kalian.” Ucapnya, ia menepis tangan Rafael kasar.

“Tuh, kan... dia pasti salah sangka sama kita.” Kata Renata.
“Terus gimana, dong, Re?”
“Gue, kan udah bilang, jangan pakein kalungnya disini. Ntar Rahma liat, jadi kacau.”
“Haduh...”
“Kejar, sana! Buruan!” Perintah Renata. Rafael menurut, ia segera mengajar Rahma.

***

Dihalaman tempat les.
“Dasar Rafael jelek! Renata nyebelin! Bisa-bisanya mereka pacaran dihadapan gue! Nggak sensitif banget, sih jadi orang! Arrght!” Ia menggerutu sepanjang jalan.
Ia menoleh, dari pintu kaca, tampak Rafael terburu-buru menuruni tangga mengejar dirinya. Rahma semakin mempercepat langkahnya, namun ia kurang berhati-hati, ciiiiiiiit. Gubrak.

Suara ban mobil berdecit keras diaspal jalan. Rahma merasakan suatu benda berat menyenggol tubuhnya dari arah samping. Ia terjatuh, lututnya terluka.
“Aduh...” Rahma meringis sembari meniup-niup lukanya yang berdarah.
“Rahma, kamu nggak papa, kan?” Rafael tampak sangat panik. Ia mengusap-usap wajah Rahma dengan kedua tangannya.
“Sakit...” Ia berkata dengan nada suara yang manja.
“Kita ke klinik, yuk?”
Gadis itu menggeleng, ia baru sadar jika tadi ia sedang marah pada Rafael, “Ngapain Kakak bantu aku? Sana, urus aja pacar Kakak itu!” Rahma mendorong tubuhnya hingga Rafael terduduk.

“Lho? Kok, kamu gitu, sih sama Kakak?”
“Bodo. Emang Kakak perduli sama aku?!”
“Kamu... cemburu, yah?” Rafael menjawil hidung Rahma.
“Nggak! Enak aja!”
“Halah... ngaku aja!”
“Ish, kepedean amat, sih, jadi orang? Emaknya ngidam apa, sih?!”
“Ngidam... kamu.” Rafael tersenyum jahil.
“Terus aja jahilin aku kayak gitu. Teruusss... sampe puas!”
“Hahaha... dasar anak kecil!”
“Aku emang anak kecil. Terus kenapa?”

Rafael memandang Rahma agak lama, mencari tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
“Kamu mau ini, nggak?” Rafael menyodorkan seuntai kalung berliontinkan lumba-lumba kesukaan Rahma.
“Dolphin?”
Rafael mengangguk, ia menggenggamkan kalung itu ke tangan Rahma.
“Bagus. Setelah Kak Renata, terus aku.  Abis ini siapa lagi? Kakak lagi sedekah bagi-bagi kalung? Kaya bener.” Ledeknya.
“Ini buat kamu, dudut!” Ia menoyor kepala Rahma.
“Apa maksudnya? Jangan bilang kalo Kakak mau pacarin aku sama Kak Renata sekaligus.”
“Ih, serakah amat, bu! Denger, yah, kamu itu salah paham, tau, neng!”
“Salah paham gimana?”

“Kalung beruang yang tadi aku pakein ke Renata itu nggak ada arti apa-apa.”
“Maksudnya? Apaan, sih, Kak?”
“Aku sama Renata itu cuma temen. Kalung itu, aku kasih karena Kakak kamu itu udah bantuin aku cari kado buat ultah kamu.”
“Ha? Jadi kalung beruang itu... cuma sekedar hadiah?”
“He-em.”
Astaga... tengsin gila, gue! Rahma menyembunyikan wajahnya dari Rafael.
“Kamu cemburu, yah?”
“Nggak!” Rahma menjawab cepat.
“Ah... kamu cemburu, tuh...”
“Nggak!”
“Jangan jadiin tempat les gue sebagai tempat mesum!” Rafael menirukan gaya Rahma tadi saat mengucapkannya.

“Ah... Kakak, malu, tau.”
“Kalo mau pacaran, cari tempat lain! Cieee...”
“Kak Rafael!”
“Kamu suka, kan, sama aku?”
“Nggak!”
“Suka tuh...”
“Nggak!”
“Berarti rela dong, aku jadian sama Renata?”
“Nggak! Eh?”
“Nah, nggak rela, kan?!”
“Kak Rafael!” Rahma mencium kening Rafael hingga membuat pria itu kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.
“Hey, ada juga aku yang cium kening kamu!” Seru Rafael.
“Ini, kan 2011.” Rahma tersenyum.

Tiiiiiin. Tiiiiii. Suara klakson mengejutkan mereka berdua.
“Woy, kalo mau pacaran jangan ditengah jalan raya, dong! Nggak liat, dibelakang udah macet?!” Seorang pengendara mobil melongokkan kepalanya melalui jendela.
Rafael dan Rahma saling berpandangan. Mereka tersenyum tersipu malu.
“Lariiiii!!!” Mereka berteriak bersamaan.
“Dasar!” Dari kejauhan, Renata memperhatikan mereka sambil tertawa.

***

Selesai.

Yang udah baca, tolong tinggalkan jejak.
Makasih :)

Neng, I Heart You -Cerpen-

By. Dinda
Follow @AprianiDinda95
Listen @sergio_odoth
*cerita ini hanya fiktif belaka*


***

“Halo Chika…” Sapa Dicky. Cewek yang disapanya cuma melirik sekilas lalu kembali sibuk dengan buku yang dibaca.
“Deuh… Chika sombong bener…”
Byur. Dan segelas es teh sukses membanjiri wajahnya.
“Eh, Dick, bisa nggak sih, sehari aja loe jangan gangguin gue?!”

Nah, tadi itu sepenggal kisah tragis dari kawan kita, Dicky. Sebenernya, do’i nggak jelek-jelek banget, kok. Malah, dia termasuk dalam jajaran cowok keren disekolah. Dicky jelas aja bingung, kenapa yah, mukanya yang ganteng itu nggak bisa menarik perhatian cewek manapun? Dia sering banget nanya sama Mamanya. Gini nih, cara nanyanya.
“Mah, kenapa sih, Ichy sering banget ditolak cewek?”
Sang Mama cuma tersenyum, beliau menjawab kalem, “Mereka masih buta aja, belum bisa liat anak Mama yang ganteng ini.” Waduh… Dicky serasa mau terbang denger jawaban Mamanya, idungnya aja ampe kembang kempis begitu.
“Mah, Mama dulu ngidam apa sih, waktu hamil Ichy?” Dicky tersenyum malu-malu kayak orang yang lagi nahan kentut.
Mamanya yang lagi asik adem ayem menyulam ala ibu-ibu komplek yang kurang kerjaan karena kerjaannya udah dikerjain sama pembantu itu menoleh.
“Dulu, Mama ngidam kelinci pake pita.”
Gubrak! Sontak, tanpa direncanain sebelumnya, Dicky langsung terjungkal dari posisi duduknya.
Buset! Gue disamain sama kelinci!

***

“Gue kudu beli pelet nih,” Ucap Dicky, sambil menyeruput es tehnya.
“Pelet? Pelet apa? Ikan mas?” Tanya Reza.
“Sialan loe! Ya kagak lah, tapi…” Dicky menghentikan kalimatnya. Sederet cewek cantik melintas dihadapannya sambil melambai ala Miss Universe yang gagal babak penyisihan (?)
“Hay, Dicky…” Mereka menyapa Dicky kompak.
“Hay…” Dicky membalas dengan tampang cengonya.
Sembilan cewek itu berjajar rapi menanti pesanan baksonya dibuatin sama si empunya kantin.
Mereka Charibelek, girlband sekolah yang namanya udah kondang sampe ke sekolah tetangga dengan single perdana mereka yang judulnya “Dilempar”. Denger-denger, mereka kasih nama itu karena terobsesi sama salah satu girlband yang lagi naik daon kayak ulet cacingan (?). Dicky sendiri sih, belum pernah denger lagu Dilempar itu kayak apa.

“Dicky…” Suara cewek menyebut namanya dari belakang. Dicky tertegun, ia menoleh dengan gerakan slow motion kayak di tivi-tivi, dan ia langsung berteriak histeris, “SETAAAAAAAANN!!!!”
“Dicky, ini Neneng, bukan setan!” Cewek yang memanggilnya itu cemberut. Yaelah, sapa juga yang suruh panggil-panggil Dicky.
“Neneng? Ya Alloh… muka loe serem banget tadi.” Reza dan Bisma yang duduk disampingnya tertawa terbahak-bahak. Disela-sela giginya tampak cabe yang nyelip.
“Besok lusa, kita kemah. Dicky nggak lupa, kan?” Neneng tersipu, padahal sumpah! Dicky nggak tertarik sama sekali.
“Iya, gue inget kok, kenapa?”
“Dicky juga inget kan, sama tugas biologi Pak Syamsul? Dia bilang, kita disuruh mencatat tumbuh-tumbuhan obat ditempat kemah nanti.”
“Iya, gue inget, Neneng. Terus apa lagi?”
“Dicky juga inget kan, kalo kita… sekelompok.” Neneng nyengir memamerkan giginya yang dipenjara alias dibehel, entah kapan bebasnya.
“Hem, kalo yang itu gue rada-rada inget, tapi juga rada-rada lupa. Ada lagi. Neneng?”
Neneng menggeleng, “Nggak ada.”
“Ya udah, makasih ya, Neneng. Sekarang, Dicky mau makan lagi, kalo Neneng masih disini, Dicky nggak bisa mulai makan nanti.” Dicky tersenyum (Eh, loe dibehel juga, Dick? – Author)
“Iya, sama-sama. Neneng ke kelas dulu yah. Dadah Dicky, dadah Bisma, dadah Reza.” Neneng meninggalkan mereka dengan senyumnya yang makin lama makin lebar aja. Hedeuh… ampun!

***

Cewek tadi namanya Neneng. Anaknya baik kok, tapi penampilannya yang nggak banget itu bikin bikin anak-anak rada ngejauhin dia. Kulitnya putih, lumayan cantik lah. Kalo direndengin sama Mpok Ati, pasti udah langsung ketebak mana Neneng, mana si Mpok. Tingginya kira-kira 160, lumayan tinggi kan, buat ukuran cewek kayak Neneng? Rambut panjangnya yang always dikepang dua itu bikin Dicky teringat sama kartun jaman dulu, Oshin, atau sama cewek-cewek yang sejaman sama Mamanya. Nyi Iteung, temen-temen sekelas menjulukinya seperti itu.

Satu lagi yang beda dari si Neneng. Kacamata yang nangkring di idungnya itu! Kacamata itu, guedenya naudzubillah. Dari bisik-bisik tetangga yang Dicky denger, dari kelas ujung ketemu ujung, dari lantai atas ketemu bawah, yang asalnya nggak tau dari mana, si Neneng yang udah 2 tahun ngejar-ngejar Dicky sampe doski ngos-ngosan itu, ternyata matanya nggak minus! Dan ternyata… jreng jreng jreng, ceritanya backsound, dia cuma ngikutin gayanya Fitri Tropica! Ck, gaul juga yah si Neneng.

***

Taraaaam!!! Ceritanya, sekolah Dicky ngadain kemah nih ke puncak. Kemah, bisa dimanfaatin sama anak-anak yang emang punya sejuta rencana. Yang lagi deketin cewek, bisa jadiin kemah sebagai ajang PDKT. Buat yang religius, bisa sekalian tadabbur alam. Bahkan, yang mau nagih utang, yang selalu gagal ditagihin disekolah karena meluluan kepergok sama guru, juga bisa disini! Dicky sih, sebenernya males buat ikutan. Karena itu artinya, si Neneng bakalan gencar buat deketin dia. Nah, kayak yang satu ini.
“Chy! Woy! Cepetan!” Teriak Reza.
Perjalanan puncak yang menanjak itu emang sukses bikin Dicky kewalahan. Gimana kagak? Badannya yang kecil mungil itu kudu mengemban ransel yang tingginya hampir setengah badan. Kebayang kagak, tuh?!
“Nggak usah keburu-buru. Nyantai aja…”
Dicky menoleh, ha? Neneng lagi?!
“Mau Neneng bantuin?”
Mata Dicky berbinar. Neneng nawarin bantuan? Rejeki nomplok!
“Boleh, bawain yah, Neng!” Dicky meninggalkan ranselnya begitu saja dihadapan wajah Neneng yang emang pada dasarnya udah cengo.
“Lho?”

“Ini kan, ranselnya Dicky?” Bisma berjalan disamping Neneng yang tersaruk-saruk membawa ransel itu.
“Iya, Neneng lagi bantuin Dicky.” Ucap Neneng dengan ceria, ia bahkan tidak mengeluh sedikitpun.
“Ikh, sini, biar gue aja yang bawa!” Bisma meraihnya dari tangan Neneng.
“Eh, jangan!”
“Ini berat, Neneng.”
“Nggak papa, kok. Biar Neneng aja.”
“Gue temennya Dicky. Jadi, biar gue yang bawa!” Tega banget sih tuh bocah! Perasaan, gue kalo manfaatin cewek nggak segininya juga, deh. Bisma menggerutu dalam hati.

***

Malam semakin larut. Acara api unggun memang membuat sebagian siswa begitu lelah. Terlebih dinginnya udara puncak yang seakan menggoda mata untuk segera merajut bulu mata (?)
“Za, bangun dong…” Dicky mengguncang-guncangkan tubuh Reza.
“Apa sih, Dick?” Reza menggeliat sebentar.
“Gue pengen pipis, temenin, yuk…”
“Gue ngantuk ah…”
“Ish… loe jangan gitu dong, Za. Hayu ah!”
“Bisma aja, noh.” Mata Reza masih terpejam.
“Bisma kan ditenda paling ujung, sama aja boong.”
“Setengah jam lagi.”
“Buset! Keburu ngompol gue!”
“Udah ah, ngantuk, Chy!”

Setelah menimbang-nimbang dengan menggunakan kancing bajunya antara keluar apa nggak, akhirnya Dicky keluar sendiri (keluarnya doang yang sendiri, nggak tau deh kalo nanti gimana – Author). Tengok kanan, tengok kiri, kali-kali aja lalu lintas lagi padat (?). Aman…

Ia berjingkat melewati tenda demi tenda yang berjajar rapi dan menuju pohon yang terletak agak jauh. Tap, bukannya agak jauh, dia malah kejauhan sampe-sampe nggak tau mana timur, barat, selatan, ataupun utara. Perasaan Dicky tiba-tiba merasa tidak nyaman, ia seperti diikuti oleh seseorang, entah siapa. Ia menoleh.
“Aaaaaaaaaaah!!!” Dicky menjerit kencang.
“Hush! Ini Neneng.”
“Neneng?” Dicky menelisik tiap sisi Neneng, kali-kali aja, itu kuntilanak yang nyaru jadi Neneng.
“Ngapain loe disini? Loe ngikutin gue, yah? Hayo, jangan-jangan loe ngintip!”
“Ngintip? Ye, Neneng nyasar!” Ucapnya, setengah berbisik.
Dicky memandang sekitarnya dengan perasaan campur aduk.
“Mampus! Gue juga nyasar!” Dicky menepuk jidat Neneng (?)

Tiba-tiba, petir menyambar bersahut-sahutan disusul dengan turunnya hujan demikian deras.
“Kita kegubuk yang disana! Ayo!” Neneng menarik tangan Dicky menuju sebuah gubuk yang sunyi.
“Buset… gelap bener, Neng.” Kata Dicky. Bilangnya sih, gelap, tapi tetep aja dia duduk di atas dipan kayu yang ada.
“Gelap tau…” Mata Dicky menyapu seluruh sisi ruangan yang remang itu.

“Tau nggak, apa yang biasanya dilakuin sama cewek dan cowok yang lagi berduaan ditempat gelap kayak gini?” Neneng duduk disampingnya.
Dicky mendelik, “Maksud loe? Istighfar, Neng! Kita tuh bukan muhrim!”
“Eh?” Neneng tampak bingung dengan ucapan Dicky.
“Denger ya, Neng, biarpun gue suka bolos, suka ngerjain guru, tapi gini-gini juga, gue tuh muslim yang taat tau!”

“Asal loe tau aja, itu tuh namanya zina! Dan balasannya itu, neraka jahannam, Neng!”
“Apaan sih, Dick?”
“Bahkan, nyentuh loe seujung jaripun, gue nggak mau!”
“Ih… kamu tuh ngawur banget. Maksud aku tuh, nyalain lilin.” Neneng mengacungkan sebuah lilin berukuran besar berwarna merah.
“Buset?! Gue kira apaan.” Dicky menggaruk kepalanya yang yang tidak gatal.
“Lilin ini, aku comot dari kuil waktu tahun lalu keluarga aku liburan ke Hongkong. Bagus, kan?!”

“Yang namanya lilin, tetep aja lilin! Mencair.”
“Meleleh, Dicky. Bukan mencair. Lilin itu meleleh.” Jawab Neneng dengan kalemnya.
“Sama aja, ah.”
‘Dicky punya korek?”
“Nggak. Eh, tapi kita bisa nyalain pake kayu!” Dicky bergegas mengambil 2 batang kayu dan mulai menggesek-gesekkannya.

2 jam kemudian…

“Bisa nggak sih, Dick? Udah  2 jam, tau!” Neneng mengusap-usap lehernya yang dicium nyamuk.
“Sabar napa sih, Neng. Lagi usaha nih.”
“Emang yakin caranya kayak gitu?” Neneng mulai meragu.
“Ehm… kalo nggak salah, kita butuh cahaya matahari buat bisa jadi api.” Jiaaah, gubrak!
“Astaga… ini kan malem, Ky! Sampe botak sariawan juga nggak bakalan nyala!”
“Gue lupa.” Ia meletakkan kayu-kayu itu begitu saja.
“Enteng amat loe bilang lupa.”

“Neneng! Neng, Dicky!” Terdengar suara yang menyerukan nama mereka.
“Sialan! Gue kan cowok, siapa tuh yang manggil gue neng Dicky?!”
“Itu suara Reza sama Bisma!”

Brak! Reza dan Bisma mendobrak pintu gubuk itu dan mendapati kedua orang itu berjongkok menghadapi sebuah lilin dan tumpukan kayu seperti makhluk Pithecanthropus Erectus yang baru saja mendapat mukjizat (Apasih? Ngawur! – Author).
“Bisma!” Neneng menghambur kedalam pelukan Bisma.
“Ih… Neneng! Lepasin! Lepasin, cepetan!” Dicky menarik tubuh Neneng .
“Kenapa sih, Chy? Loe cemburu?!” Tanya Bisma.
“Bukan! Kan tadinya gue duluan yang mau meluk loe! Mamang…” Kali ini gantian Dicky yang meluk Bisma. Mana pake acara tangis-tangisan segala lagi, kayak acara di tipi-tipi itu. Yang kata nyari orang yang udah lama kagak ketemu. Padahal, belum ada 3 jam kok mereka ilang. Tapi, karena emang pada dasarnya Bisma masih normal, dia langsung aja dorong tubuh Dicky.
“Hayo ke tenda sebelum ada guru yang tau. Kalo guru tau, bisa manggil tim SAR, mereka!”

***

Udah 4 hari setelah pulang dari kemah, si Neneng nggak masuk sekolah. Dicky gelisah, berkali-kali dia noleh ke belakang, tempat duduk dimana Neneng parkir (?)
“Neneng nggak sekolah lagi,” Gumamnya.
“Loe ngomong apa?” Tanya Reza.
“Nggak kok, lupain aja.”
“Neneng sakit. Kalo loe kangen sama dia, jujur aja. Semua anak-anak juga ngakuin kok, kalo mereka kangen sama Neneng.”
“Sakit apa?”
“Gue kurang tau. Mungkin parah.”
“Parah? Masa, sih?”
“Loe nggak percaya? Samperin aja kerumahnya.”
“Nggak ah. Ngapain juga. Lagian, siapa Neneng buat gue?”
Dicky menepis semua perasaannya. Neneng kan, bukan siapa-siapa gue!

***

7 hari. Genap seminggu Neneng nggak masuk sekolah. Tak ayal, diam-diam Dicky khawatir juga. Akhirnya, setelah melewati pergulatan panjang, dan kembali menghitung kancing baju sekolahnya, dan pada akhirnya keputusannya jatuh pada kata ‘jenguk’, mau nggak mau, Dicky kudu jenguk Neneng juga.

Tok. Tok. Tok. Begitulah bunyi pintu yang diketuk Dicky.
“Salamelikum… Neneng…” Dicky mengintip dari kaca jendela. Sepi. Ia kembali mencoba.
“Salamelikum… Neng?!” Kali ini lebih keras.
Ceklek. Seorang perempuan sekitar 30 tahunan yang ditaksirnya adalah Mama Neneng tersenyum.
“Temennya Neneng, yah?” Tanyanya.
“Iya, Neneng ada?”
“Ehm… Nenengnya udah pergi, dek.”
“Pergi? Kemana?”
“Ke Bandara, setengah jam tadi perginya.”
Deg. Bandara? Neneng mau pergi? Kemana? Tapi kenapa? Apa Neneng mau berobat soal penyakitnya yang Reza bilang parah itu? Terus, dia bakal balik lagi nggak? Pertanyaan itu menari-nari diatas kepala Dicky. Ia segera pamitan dan melajukan motornya menuju Bandara.

***

Bandara.

Sampai disana, Dicky segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Reza.
“Halo?” Sapa Dicky.
“Iya, apa, Dick?”
“Neneng, Za. Neneng…”
“Kenapa sama Neneng?”
“Neneng mau pergi, Za. Dia mau pergi!” Dicky terengah-engah. Airmata mulai menggenangi pelupuk matanya.
“Pergi? Kemana?”
“Gue nggak tau. Tapi yang jelas, dari Bandara. Dia naik pesawat, Za. Itu berarti jauh, kan, Za?” Nada suara Dicky terdengar sangat ketakutan.
“Naik pesawat? Neneng pergi naik pesawat? Apa dia mau pindah sekolah?”
“Loe jangan nakutin gue gitu, dong, Za.”
“Ya udah, gue nyusul loe yah!”
Klik. Reza mematikan telfonnya begitu saja. Dicky masih berdiri ditengah-tengah Bandara yang ramai. Perasaannya kian takut. Jangan pergi, Neng! Please!

Lalu lalang disekitarnya membuatnya semakin kalut. Terlebih, saat ia melihat sebuah pesawat lepas landas. Dicky histeris, ia berlari menuju kaca besar dimana ia bisa melihat pesawat itu.
“Neneng!” Teriaknya.
“Neneng… jangan pergi.” Ia menangis.
“Dicky?” Ia seperti mendengar suara Neneng. Itu cuma khayalan gue!
“Neneng… jangan pergi… heu heu heu…”
“Dicky, ini Neneng!”
Dicky tertegun, “Eh?” ia menoleh dan segera menghapus airmatanya saat sadar bahwa Neneng berdiri dibelakangnya.

“Neneng? Kok ada disini?”
“Lho? Dicky ngapain disini?”
“Kok, Neneng nggak naik pesawat?”
“Pesawat? Ngapain juga Neneng naik pesawat?”
“Neneng nggak mau pergi?”
“Pergi kemana?”
“Eh?”
“Apa sih? Dicky nggak jelas gitu, deh!”
“Neneng!” Dicky memeluk tubuh Neneng yang imut itu dengan erat.
“Emh… Ky, Neneng nggak bisa nafas. Uhuk uhuk.”
“Eh, maaf, Neng.” Ia melepaskan pelukannya.

“Kamu ngapain ke Bandara?” Tanya Dicky.
“Tuh, nganterin Om yang mau pulang ke Kalimantan.”
“Terus kenapa nggak sekolah?” Dicky cemberut.
“Haduh… Neneng kan kena cacar air, Dicky.”
“Cacar air? Katanya penyakit parah?”
“Penyakit parah? Kata siapa?”
“Reza.”
“Reza? Nggak kok, Neneng cuma cacar aja.”
“Sialan!!! Awas si Reza nanti!” Gerutunya.

“Dicky ngapain disini?”
“Ha? Ehm… ngapain, yah?”
“Terus tadi, kenapa peluk Neneng?”
“Ehm… anu…”
“Dicky suka sama Neneng?”
“Eh?”
“Dicky kesini buat cegah Neneng biar nggak pergi, kan?”
“Apa sih, pede banget!”
“Oh… bukan yah? Yaudah.” Neneng melangkah mendahului Dicky.

“I heart you, Neng.” Ucap Dicky. Langkah kaki Neneng berhenti, ia menoleh.
“Apa?”
“Gue bilang i heart you!” Dicky berkata lebih keras, membuat orang-orang disekelilingnya menoleh.
“I heart you?”
“Iya, gue mau loe jadi pacar gue!”
“Aih?”
“Gue rela dikeroyok seluruh rakyat Bandung yang tercatat sensus tahun ini, asal loe mau jadi cewek gue!*”
Neneng terdiam. Ia tidak menjawab apapun. Ia tersipu malu. Neneng tidak menjawab pernyataan Dicky. Tidak perlu ada kalimat yang terucap dari mulutnya. Sebuah anggukan kecil dari Neneng sudah cukup menjawab semuanya.

***

End.

*Dikutip dari Gilalova, Segila-gilanya cinta; Saija Cinta Adinda karya Ali.
Dengan perubahan seperlunya.

Thanks to: Uee, Marina, Iin, Annisa, Aini, dan keempat personil Chabel lainnya :)

Nah... udah kan? Langsung komen yah..
Maaf lho kalo jelek, soalnya bikinnya penuh dengan godaan kanan dan kiri (?).
Ceritanya ini Neneng yah. Udah mirip belum sama deskripsi saya diatas? :D

Sabtu, 28 Januari 2012

Sorry My Friend 3 Last Part

Karya : Vhenna
*Cerita Ini Hanya Fiktif*



Gue melihat Dicky keluar dari ruang Reza. “Reza sadar, dia mau ketemu sama Chika.” Ucapnya. Gue segera memajukan kursi roda gue memasukki ruangan Reza.

“Kenapa Za?” Tanya gue ketika telah berada di samping Reza.

“Via udah sadar?” Degg..! hati gue terasa hancur. Di saat genting seperti ini dia sempat-sempatnya menanyakan Via?. Gue terdiam, gak tau apa yang harus gue bilang. Gue benci semua ini. Tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Reza.

“Via meninggal.” Ucap Bisma lemas. Gue tersenyum. Mereka mau membohongi gue lagi? Gue yakin, tadi itu sandiwara Via aja. Mana mungkin, belum sampai se-jam dia menelphon gue, kondisinya udah kayak gitu. Dan sekarang meninggal? Gak masuk akal.

“Kamu senyum Chik?” Tanya Bisma. “Kenapa? Kamu seneng Via meninggal?” Sambungnya. Pertanyaan gak penting. Gue gak seneng, tapi gue lega. Akhirnya, gue bisa memulai hidup baru gue tanpa ada bayangan Via lagi. Gue melihat ke Reza, wajahnya pucat, terlihat dia memejamkan matanya.

“Siapa yang nusuk loe?” Tany gue ke Reza. Bisma terlihat kaget dengan pertanyaan ini, bukannya gue membalas pertanyaan Bisma, tapi gue malah bertanya ke Reza. Reza membuka matanya, tapi dia mengalihakan pandangannya, dia gak melihat ke gue. “SIAPA.!!?” Tanya gue yang geram, Suara gue menjadi serak karna masalah ini, mungkin karna gue kebanyakan teriak dan menangis.

“Via..” Jawab Reza datar. “Tapi..”
“STOP..!” Gue tersenyum lagi, sejujurnya gue mau tertawa kencang, agar ruangan ini menggema. Kayak gini mereka masih sempet ya peduli sama Via? Gilla..! semua ini Gila..!“Aku mau liat sendiri mayatnya Via.” Ucap gue, gue gak mau mereka membohongi gue lagi.


Bisma mendorong gue ke kamar sebelah Reza. Gue menemukan mayat yang cantik disana, tapi entah kenapa. Bukan senang yang gue dapat, tapi terngiang di otak gue, saat dia masih jadi sahabat gue dulu. Gambaran dirinya saat menangis di pundak gue karena masalah Bisma, masih sangat jelas. Gue sedih..? gak..! gak boleh.!
***###

Semua orang yang gue kenal berkumpul di pemakaman ini. Makam dengan tanah yang masih basah menutupi tubuhnya, bunga di atasnya yang masih sangat segar, menunjukkan makam ini masih baru. Makam yang menjadi tempat terakhir sahabat sekaligus musuh besarku itu. Sekarang apa yang harus aku rasaka?senang? atau sedih? Entahlah..! kenyataan ini sangat pahit. Mengapa tak aku yang berada dalam makam itu. Dikubur dengan tanah, sepi, sunyi, dan lambat laun lenyap di makan cacing, dan ular-ular dalam tanah.

Aku berusaha meyakinkan hatiku, agar lebih tegar lagi. Agar aku bisa menerima kenyataan yang aku alami sekarang. Berusaha mensyukuri nikmat, bahwa aku masih hidup hingga detik ini, untuk berbuat lebih baik lagi.

“Gue mau menjelaskan semuanya Chik.” Ucap seorang lelaki dengan kursi roda, infuse-Nya masih terlihat di punggung tangan kirinya. “Via memang nelphon loe di samping gue pada saat itu. Dia menelphon sambil menuruni tangga dan memotong apel yang di pegangnya. Namun, dia gak hati-hati. Dia terpeleset dan memeluk gue, hingga tangannya yang masih memegang pisau, menyayat perut gue. Pisau itu berhasil merobek perut gue, untungnya gak terlalu dalam. Gue ngerasa ngilu banget, darah terus mengalir, sempet gue raba, dan gue menemukan luka sobekkan itu, tau gak rasanya apa Chik?” Tanya Reza. Tapi gue menggeleng pelan.

“Sakit banget Chik, apalagi saat gue rasain sakitnya ketika gue cabut pisau itu, dan memasukkan telunjuk gue ke dalamnya, entah apa yang gue sentuh saat itu. Perihnya bener-bener luar biasa Chik. Loe tau itu untuk apa?” Gue menatap lekat mata Reza, dan menggeleng, “HAL GILA…!”

Reza tersenyum. “ Untuk loe. Untuk sakit yang loe rasain karena ulah gue. gue yang menyuruh kakak-kakak loe buat bawa Via ke luar negri,karena dokter bilang Via masih bisa hidup lebih lama lagi, agar gak di jahatin sama loe. Dan gue juga yang bikin Via hadir lagi dalam kehidupan loe. Gue yang bawa Via balik ke Indonesia. Gue fikir dengan cara gue bantu loe, loe akan berpaling ke gue. Tapi ternyata, cinta loe hanya untuk Bisma. Gue dan yang lain biarkan Via senang untuk beberapa hari sebelum kematiannya, karna dia gak mungkin nyelakain loe.”

Lagi-lagi gue menggeleng lemah. Kenapa Reza melakukan ini semua. “Gue tau, dalam hati loe, pasti loe tanya kenapa. Iya kan?” Lagi-lagi Reza tersenyum. “Karna gue kecewa sama loe yang gak pernah sadar akan cinta gue selama ini. Tapi, akhirnya gue juga menyesal Chik. Saat itu, gue menyuruh Via membalas dendamnya ke loe, tapi ternyata gue gak sanggup liat air mata loe, dan Via juga begitu. akhirnya gue putisin agar menyudahkan dendam konyol ini.” Reza menyelesaikan Bicaranya. Reza kembali pergi ke Rumah Sakit di antar Dicky, karna dia memang belum pulih betul.

“Ini surat dari Via sebelum dia pergi.” Morgan memberikan surat berwarna oranye, kesukaan gue. “Gue udah bilang, semua ini akan berakhir.” Ucapnya dan tersenyum meninggalkan kami semua.
***###
Gue memegang erat surat itu hingga dalam kamar. Gue memutuskan membaca bersama kakak-kakak gue dan Bisma, juga Dicky. Tulisan tangan yang sangat amat gue kenal, berbaris dalam untaian dalam kertas oranye ini.

Untuk : My Friend ‘Chika’
Maaf jika ku hadir kembali dalam kehidupanmu yang baru.
Maaf jika ku membuatmu membeci kehidupanmu lagi.
Maaf jika kau menganggapku telah merebut kebahagiaanmu.
Tapi sadarkah kau? Kau yang telah mempunyai segalanya.
Mempunyai ke tiga orang kakak yang sempurna dan menyayangimu,
Mempunyai seseorang yang aku cintai, tetapi dia justru memilihmu.
Aku yang seharusnya iri padamu Chika.
Aku tertawa melihat wajahmu yang ketakutan saat ku muncul.
Kau tau mengapa?
Karna aku berpura-pura, aku hanya ingin membuat mu jera, dan bersekongkol dengan kakak-kakakmu,
Juga Bisma, Kekasihmu… agar kau menyangka aku akan membunuhmu.
Lucu bukan? Tentu.! Aku takkan melakukan hal bodoh itu.
Tadinya aku memang mau merencanakan sesuatu bersama Reza. tapi, ku urungi niat itu.
Ingatlah Chika, kau sahabatku, dan akan terus jadi sahabatku.
Selamanya…

Gue lipat kembali kertas oranye itu, Gue tempelkan di dada, memejamkan mata, dan membiarkan ingatan gue melayang tentang Via.
“Sekarang kamu tau kan? kita kayak gini, bukan karna benci sama kamu.” Terdengar bisikkan Bisma.

“Iya Pah,” Selamat Tinggal Via, maafkan sahabatmu yang selalu melukaimu ini. Bayangmu takkan terlupa, kebaikanmu, kan ku kenang, tawamu, kan menghiasi, seluruh hari-hari dalam kehidupanku, esok, lusa dan seterusnya. Bisma memeluk tubuh gue erat. Gue rasakan ada butiran yang terjatuh hangat di pundak. “Kembali tersenyum Hinataku.” Gue tersenyum, meski rasanya masih pahit karna Via.
Sekarang, Via benar-benar benjadi kenangan. Via telah pergi selamanya.
**##
Via Said..
Ku Biarkan nyawaku terbang bersama luka-luka ini…
Meski sangat sakit ku rasakan, tapi tawanya kan menghapus luka ini perlahan.
Aku yakin, dia adalah sahabat yang baik,entah mengapa hatiku begitu menyayanginya.
 Ku ingin melihat tawanya kelak,.
Ku ingin menyaksikan kebahagiannya,
Ku ingin ada di sampingnya meski dia tak menyadari..
Karna ku kini.. Telah di alam berbeda..



-TAMAT-

Sorry My Friend 3 Part 4

Kali ini gue bener-bener bingung. Apa gue harus ke rumah sakit atau gak? Tapi, mendengar ucapan cowok itu yang amat sangat khawatir, gue mutusin buat jalanin kursi roda gue ke ruang tengah. Tapi siapa yang antar?

Gue gak mungkin minta bantuan kakak-kakak gue buat antar kan? Apalagi Bisma. mereka kan udah bohongin gue. Kalau Morgan? Gak mungkin.! Sekarang Via adiknya kembali datang. Dia pasti lebih nurut sama Via. Masa gue sendiri sih? Gue kan lumpuh. Sama siapa gue nanti? Apalagi kalau ketemu Via dijalan.

Cekreekk..
Seseorang membuka pintu kamar gue.
“Mah, kamu udah dapet telepon atau sms dari Dicky belum?” Tanya Bisma yang tengah berdiri sambil memegangi gagang pintu.

“Udah, kenapa?”

“Mau ikut aku ke rumah sakit?”

Gimana nih? Ikut gak yah? Sebenernya siapa sih yang sakit? Tapi gue gak mau banyak tanya dulu, gue mengangguk pada Bisma. Meskipun gue masih belum tau siapa yang sakit.
*#*#*#

Gue turun di Rumah Sakit biasa. Bisma mendorong gue ke sebuah lorong. Hey..! gue tau jalan lorong ini. Lagi-lagi jalan menuju ruang UGD? Kenapa di kehidupan gue selalu dibayang-bayangi dengan ruang UGD?

Gue melihat seseorang terbaring lemah disana? Ragu memang menebaknya, tapi ternyata benar..! Reza dirumah sakit sekarang. Pertanyaan gue. ‘Kok Bisa?’.

“Kenapa Reza bisa ada di sini Ky?” Tanya gue ke Dicky yang berdiri tepat di samping gue. Gue menggelengkan kepala gue. tetes demi tetes air mata jatuh. Kenapa? Kenapa Reza? Kenapa masalah gue gak behenti juga?

“Perutnya ditusuk pisau Chik.” Jawab Dicky lemah.

“Siapa yang nusuk ky?” Dicky diam. Dia hanya tertunduk. Entah kenapa, gue meresa kalau Dicky gak mau lihat gue. “SIAPA? JAWAB..!!?” Gue membentak. Gue lihat Dicky dan Bisma bergantian. Bisma terdiam, justu dia ikut tertunduk. “Bis..” Gue memegang ujung kaos Bisma

Terlihat Bisma menghela nafasnya. “Hufff… Nanti kamu tau kok.” dia mengelus rambut gue pelan.

Nanti gue tau? Gue mau tau sekarang.! Gue gak mau nanti. Kenapa sih mereka semua gak pernah jujur? Emang mereka anggap gue apa?

“Kita ke UGD sebelah yuk..” Ajak Bisma. tanpa menunggu jawaban dari gue, dia mendorong kursi roda gue ke luar. Hey…!! Siapa lagi di UGD sebelah?

“Bis.. sebentar.” Gue menghentikan dorongan tangan Bisma di kursi roda.

“Kenapa?”

“Siapa yang ada di UGD sebelah?”

Gue mendongakkan kepala gue ke atas, agar gue bisa lihat wajah Bisma. “Nanti kamu liat sendiri.” Ucapnya tanpa ada senyum. Dari tadi gue emang gak liat Bisma senyum.

Bisma membuka UGD yang berdampingan dengan UGD ruangan Reza dirawat. Awal yang gue perhatikan adalah kakinya. Yah..! dari ujung kaki hingga kemudian kepala yang semuanya terbaring di kasur menyedihkan itu.

Di sekitar tubuhnya, gue lihat banyak selang yang menempel. Wajahnya yang biasa gue lihat ceria, sekarang pucat pasi. Bibirnya putih, dan tangannya dingin. Seakan aliran-aliran darah tak lagi aktif berjalan. Tuhan.. kenapa semua ini?

“Dia belum sampai sejam berada disini. Aku juga dapat kabar ini, saat kita di jalan menuju Rumah Sakit. Dia ditemukan di samping Reza.” Bisma menjelaskan. Gue alihkan pandangan gue sejenak melihat sosok laki-laki yang berdiri tegap di samping gue sekarang. Dia terlihat menghapus air matanya.

“Gak mungkin Bis..” Gue menggeleng lemah. Gue gak mampu berfikir lagi sekarang. Alam sadar gue hilang. Gue memegangi Kepala gue yang sakit, sakit banget. gue kembali memutar ingatan ketika dir el kereta. Kenapa saat itu gue gak mati aja? Lebih baik gue mati.! Dibandingkan gue hidup dengan situasi kayak gini. Gue wanita yang mencoba kuat. Tapi akhirnya gue juga lemah. Lemah, dan tak berguna seperti sekarang.

“GUE MAU PULANG…!!!” Gue berkata sekencang mungkin. Terserah jika akhirnya Dokter datang dan memaksa gue keluar. Gak peduli dengan Bisma yang bingung dengan tingkah gue kayak gini. Gak peduli apapun yang ada dalam fikiran orang.

Gue menjalankan kursi roda secepat mungkin. Namun nihil.! Tetap aja terkejar oleh lari Bisma.

“Jangan kayak gini.”  Bisma memohon. Apanya yang jangan? Sikap gue? Gue gak peduli. Bisma memaksa kursi roda gue berbalik. Dia mengembalikan gue ke ruangan itu. Walaupun sekarang gue Cuma ada di depan pintu.

Isak tangis gue masih amat terdengar jelas. Bisma menekukkan lututnya di hadapan gue  “Dengerin aku Chik.” Gue mengalihkan pandangan dari wajah Bisma. “CHIKA..!!” Bentaknya. Sakit rasanya mendengar bentakkan itu. Membuat hati yang telah hancur, kini terasa benar-benar tak ada serpihan lagi. Semuanya hilan. Hambar..!

“A..Aku.. hiks. ng..Gak.. hiks.. sang. gup lagi Bis.”

“Ini pasti berakhir chik, pasti.” Dia menatap gue lekat. Mencium kening gue, dan kemudian memeluk tubuh gue.

“Iya.. ini pasti berakhir.” Suara lelaki dewasa mengagetkan gue.

Siapa yang menusuk Reza?
Siapa yang terbaring di kasur samping kamar Reza?
Siapa yang datang?
*Maaf beribu maaf kalau jelek ya...
Tunggu di part terakhir yang mungkin agak banyak.

Sorry My Friend 3 Part 3

Karya : Vhenna
*Cerita ini hanya Fiktif*



******

Gue menjalankan kursi roda ke arah jendela. Agar gue bisa liat pemandangan di samping rumah.
Hapuslah air matamu..uh..uh..
Terdengar bunyi hp gue. Gue melihat nama yang tercantum,private number. Nomor siapa nih? Kok gak di kenal?
Sebelum music itu berkumandang lagi, gue segera menekan tombol hijau yang ada di sebelah kiri.
“Hallo Assalamualaikum.” Sap ague dengan nada selembut-lembutnya. Karna jika suara gue lebih besar lagi, maka dia akan mudah menebak jika gue sedang sedih. Gue gak mau siapapun tau, cukup kakak-kakak gue dan Bisma aja.

“Hallo Chika sayang..” Sambut suara di seberang. Tampaknya gue kenal suara ini. Ini suara Via.! Iya.. Pasti ini Via. Cewek yang udah bikin gue jatuh kemarin.

“Ngapain loe telepon gue?”

“Gak ngapa-ngapain. Udah belum nangisnya? Kalau belum gue mau bilang sesuatu.”

“Mau bilang apa?”

“Mau bilang, kalau gue bakal rebut kembali hak gue yang di ambil loe. Gue akan buat Bisma kembali sama gue.”

“Gak akan.! Bisma milik gue. bukannya loe udah meninggal?”

“Gak.! Gue masih hidup. Kakak-kakak loe itu bohong, Bisma juga bohong. Kasian banget ya loe dibohongin. Malah gue tinggal di salah satu Rumah Sakit yang ada di Singapura. Sama orang tua loe yang lagi dinas lagi.”

“Gak mungkin.!” Gue menggelengkan kepala gue. Gak mungkin mereka semua bohongin gue. Gak mungkin Bisma da kakak-kakak gue yang lain sejahat itu. Ini pasti akal-akalan dia aja.

“Kenapa gak mungkin? Apa loe datang waktu acara kematian gue? Jadi mana loe tau kalau gue udah mati atau belum? Atau karna mereka yang bilang? Inget Chika, mereka semua udah bohongin loe. Buktinya gue ada di hadapan loe. Buat balas semua yang udah loe lakuin ke gue. Termasuk, rebut kembali kekasih gue. NGERTI?”

“Bisma gak akan kembali ke loe..!!” Gue berteriak sekencang mungkin.

“Liat aja nanti. Apa yang akan dilakuin Bisma sama cewek lumpuh yang gak bisa apa-apa? Dia itu cuman kasian sama loe.”
Tuutt…
Via menyudahkan pembicaraannya begitu saja. Tapi benar apa kata Via. Apa bisa gue lakuin? Sekarang gue cuman cewek lemah dan gak bisa apa-apa. Apa mungkin Bisma setega itu?  Gue sayang Bisma. Gue gak mau kehilangan dia. Kenapa mereka semua bohong? Kenapa mereka menyembunyikan Via?

Cekrekk…
Pintu kamar gue terbuka, gue menoleh pelan. “Ngapain kalian?” Tanya gue ketika kak Ilham, Kak Rafa, Kak Rangga dan Bisma mesuk ke dalam kamar.

“Kamu gak pa-pa sayang?” Tanya kak Rangga.

“Menurut kalian?”

“Kita..” Kak Ilham menggantung kata-katanya.

“Silahkan keluar. Aku gak butuh pembohong kayak kalian.” Ucap gue pelan. Gue masih bisa menahan air mata gue yang siap berkejar-kejaran di pipi.

“Pembohong apa sih maksud kamu mah?” Pintar sekali Bisma. Dia memasang muka tak bersalah sama sekali. Wajahnya tampak bingung. Padahal gue yakin. Bisma pasti tau.!

“Kalian sembunyiin Via kan?” Kali ini air mata gue gak sanggup gue tahan lagi. Seketika mereka keluar dengan berlari riang dari mata gue.

“Ki.. kita..” Kali ini kak Rafa menjawab, namun dia gak berani lihat ke gue. semua tertunduk. Mereka Diam.! Itu pasti benar. Pasti mereka melakukannya.

“YES Or NO KAK..!!??” Gue berteriak, suara gue menggema sangat nyata. Biarkan mereka tau kekecewaan gue ke mereka.

“Yes..” Mereka menjawab kompak.

“Sekarang kalian pergi.” Hati gue remuk mendengarnya, mereka benar-benar tega.! Tak tahukah mereka perasaan gue sekarang? “PERGI CHIKA BILANG…!!!” Gue berteriak sekencang mungkin, saat gue melihat mereka masih berdiri di tempat yang sama.

****
 “Maafin kakak Chik.. tapi, kita punya alasan.” Kak Ilham membuka suaranya, setelah semua orang pergi. Entah kenapa kak Ilham tak ikut keluar dari kamar gue.

“Alasan apa lagi? Alasan karna kakak mau lindungin Via dari aku? Supaya aku  gak bunuh Via? Itu maksud kakak?” Kak Ilham diam, dia tak menjawab pertanyaan gue. sebegitukah mereka menilai gue? sejahat itukah gue?

“Pergi kak. Please,ijinin Chika sendiri kali ini.” Gue memohon tanpa melihat wajah kak Ilham. Tapi, suara langkah kakinya terdengar jelas, bahwa ia telah berjalan menjauh dari tempat gue.

Hapuslah air matamu..uh..uh..
Lagi-lagi ada telepon. Gue lihat layar hp gue. masih private number. Pasti Via lagi.! Gue menghapus air mata, dan mulai mengatur pernafasan, agar suara gue tak terdengar sedih.
Setelah nafas gu mulai stabil, Gue segera menekan tombol hijau di keyboard hp.
“Ngapain lagi loe Vi?”

“Vi? Aduh Chika, gu bukan Via.” Jawab suara lelaki di seberang sana.

“Terus siapa?”

“Gak penting.! Yang penting sekarang, gue tungguloe di Rumah Skit tempat loe di rawat kemarin. PENTING..!”

Tutt.. tutt.. tutt..

Huh..!! mati lagi telephonnya.
RUMAH SAKIT LAGI? Hidup gue gak jauh-jauh dari Rumah Sakit.
Akh siapa lagi sih yang  telephone gue?Gue tau sih dengan suaranya, tapi agak kurang yakin.
Terus gimana lagi yang akan terjadi?
Apa yang bakal di lakuin Via lagi?
MAAF kalau BANYAK dan JELEK..
hehehe.. Gak konsen bikinnya, kan sibuk. (tapi koko banyak?)

Sorry My Friend 3 Part 2

Karya : Vhenna
*Cerita ini hanaya Fiktif*



Gue tersadar di ruang yang gak asing lagi. Dimana lagi kalau bukan kamar gue? Tempat yang kini akan menjadi teman gue saat gue susah. Gue menemukan kepala. Kepala kak Ilham, tepat di tangan gue, gue mengelus rambutnya. Rasanya bener-bener lega banget. lega bahwa gue mempunyai dia sebagai kakak gue.

“Kemu udah sadar de?” Kak Ilham bertanya cemas setelah bangun dari tidurnya. Matanya yang sayu, menunjukkan dia seperti kelelahan.

“Udah kak.. Keman yang lain? Terus kok aku bisa ada di sini sih?”

“Kemarin kita temuin kamu pingsan di taman, yang lain udah pada pulang.”

“Kemarin..” Gue mencoba mengingat-ingat. Kemarin gue mendengar suara cewek. Dan gue kenal suara itu. Tapi rasanya gak mungkin.! Sudahlah, mending gue tanya ke kak Ilham.  “Kemarin aku denger orang yang bisikkin sesuatu, terus dia dorong aku.”

“O-Oh.. itu, yaudahlah. Kamu lupain aja ya sayang. Tidur lagi, masih jam 2 pagi.” Dari mana kak Ilham tau ini jam 2 pagi? Di kamar ini, gak ada jam dinding. Kak Ilham juga keliatan gak peke jam tangan kok. Terus matanya kok sayu banget? bisma mana, lagi? Apa karna sekolah, Jadi dia gak temenin gue?

“Kakak tau ini jam 2 pagi dari mana? Mata kakak juga sayu banget. kakak baru tidur ya..?”

“Lupain ya.. sekarang yang penting kamu tidur aja. Besok kakak mau kamu sekolah.”

“Oh, iya deh kak. Tapi, besok pagi kakak jawab pertanyaan aku ya..!”

“Gak janji..” Kak Ilham mengecak-acak rambut gue. “Kakak malam ini tidur disini gak pa-pa kan?”

Gue mengangguk, kenapa sih kak Ilham? Dia sekarang tidur di kursi samping tempat tidur gue. Tangannya juga megang tangan gue kenceng banget. kak Ilham kayak gak mau kehilangan gue. dia aneh.!
**
Gue menuju ke ruang keluarga dengan pakaian yang siap berangkat ke sekolah, baru jam 6 pagi memang. Tapi gak tau kenapa, hari ini gue semangat banget ke sekolah. Gue mau membuka lembaran baru lagi kali ini.

Gue liat di ruang keluarga kak Ilham,Kak Rangga, dan Kak Rafa sedang menonton TV,rupanya mereka menginap semalam. Tapi mata mereka juga sama, sayu, seperti mengantuk. Atau? Mereka habis menangis? Entahlah..!
“Kakak gak pada tidur ya? Kok matanya sayu semua sih?”

“Gak kok.! Kita tidur nyenyak sayang.” Kak rafa tersenyum.. kemudian memperhatikan pakaian gue yang telah rapi sekolah. “Kamu…” Ucapnya menggantung.

“Mau sekolah kak. Kaki aku yang lumpuh, tapi cita-cita aku gak lumpuh kan?” Gue berkata mantap. Padahal gue berbohong. Cita-cita? Apa cita-cita gue? hobby gue, minat dan bakat gue aja gue gak tau kok.

Mereka saling berpandangan. “Kamu dirumah aja ya sayang…” Kak Rangga memohon. Kenapa sih ni?

“Tapi kan kak..”

“Kalau masalah Bisma, biar kakak yang suruh Bisma ke sini sekarang. Biar dia bisa jagain kamu.”

“Kak, please. Aku mau sekolah.” Semua terdiam. Mereka hari ini benar-benar aneh.
**

“Hallo Sayang..” Bisma menyapa gue yang hampir setengah jam menunggunya. “Kamu yakin mau sekolah?” Lanjutnya.

“Iya dong.. Kamu temenin aku terus kan di sekolah?”

Bisma melihat ke arah kakak-kakak gue. mereka semua mengangguk dan tersenyum seperti dipaksa.

“Kalau gitu gue cabut dulu ya guys..” Bisma berpamitan ke kakak-kakak gue.

“Tha.. tha kakak…” Gue melambaikan tangan dari jendela, setelah mobil Bisma melaju pelan.

“Daaahh..” jawab mereka bersamaan. Lagi-lagi senyumnya terlihat memaksa.
**
Gue sampai di sekolah,dengan tatapan aneh para pelajar lain. Tapi tak apalah, gue gak peduli sama omongan orang lain. Gue gak peduli apapun yang akan orang omongi, yang penting Bisma ada di samping gue sekarang.

“Eh Chika… kita ketemu lagi ya? Gimana permainan kamu? selesai? Berakhir kayak gini? Kasian… hahahaha…” Suara tawanya menggema. Gue tau, suara itu? Suara yang mendesah di telinga gue sebelum gue jatuh. Benar dugaan gue.

“Permisi ya.. cewek gue bukan yang dulu. Dia gak suka main-main sama orang stress kayak loe.” Bela Bisma.

“Bukannya cewek loe dulu juga stress ya? Liat aja, gara-gara dia stress kehilangan loe. Dia sampai rela bunuh diri. Cewek bego.” Dia berkata lantang.

“Bis.. pulang.” Gue menatap ke depan tanpa arah.


“Iya…”
**
“Kamu pulang de? Udah kakak duga, kamu pasti gak akan betah di sekolah.”
Gue gak peduli dengan omongan Kak Ilham. Gue terus memutarkan jari-jari gue ke roda yang menempel di pinggir-pinggir kursi yang gue duduki.

Dengan langkah agak jauh, gue cuman denger Bisma yang bilang. “Di dalam mobil dia diem aja.” Hanya itu. Gak ada lagi yang gue denger. Karna gue langsung masuk ke dalam kamar.
****

Kenapa? Siapa? Dan kenapa?
Kenapa kakak-kakak Gue dan Bisma?
Siapa cewek itu?
Kenapa Chika jadi cewek yang lemah?

Kalau ada salah penulisan. Salahkan ke admin lain.
#Gakmaukenasalah. :-P

Sorry My Friend 3 Part 1

Karya : Vhenna
*Cerita ini Hany Fiktif*


Seharusnya ini yang last part. Tapi karna terlanjur, yaudah deh, gak pa-pa. maaf ya kalau jelek or kebanyakan, aku ngerjainnya Subuh.
I HOPE U LIKE.


Bisma terlihat agak marah. Dia gak lagi senyum seperti tadi.
“ Kenapa?”

“Kenapa manggil aku sasuke-kun?”

Ya ampun.! Gue lupa. Sasuke-kun kan panggilan buat Morgan. Kenapa gue jadi mikirin Morgan ya? Aduuhh… Chika Bodoh.!

“Hhehe.. maaf Naruto. Aku lupa.”

“Kita tinggal ya…” Dicky yang dari tadi diam ikut bicara.

“Iya.. kenapa gak dari tadi sih?” Jawab Bisma, sekaligus bertanya balik.

“Maunya.” Dicky neloyong kepala Bisma dan pergi keluar di ikuti Reza dan Salwa.

“Pah, apa dengan kejadian itu. Rasa percaya kamu gak akan ada lagi buat aku?” Tanya gue. Gue gak mau kalau sampai Bisma gak percaya lagi sama dia.

“Maksudnya?”

“Ya… apa dengan peristiwa kemarin, kamu gak akan percaya sama kata-kata yang aku ucapin?”

Gue bisa lihat raut wajah Bisma yang tersenyum. Kenapa dia senyum? Kenapa gak jawab pertanyaan gue? “Mah, aku percaya kamu, dan akan selalu percaya sama kamu. asal kamu janji, gak akan ada lagi kebohongan dan rahasia antara kita.”

“Aku janji.” Gue menunjukkan jari kelingking gue, menunggu Bisma melingkarinya. Tapi Bisma malah menepis.

“Kayak anak kecil.” Iiiihhh.. Bisma.!!! kenapa dia bilang kayak anak kecil sih?

“Jangan manyun gitu ah.. emang kayak anak kecil tauk.” Gue masih cemberut, tapi Bisma selalu punya ide. Dia merebahkan badannya di kasur gue. Jadi dia tidur tepat di samping gue. Bisma memiringkan tubuhnya menghadap ke gue. Jantung gue deg-degan banget, hati gue cenat-cenut, peluh gue menetes, padahal AC di kamar cukup dingin. Ahh Bisma mau ngapain sih?

“Aku gak bisa suruh kamu tatap aku kayak kemarin-kemarin kalau aku duduk di situ.” Maksudnya? Apa maksudnya tatapan yang memaksa gue selalu maafin dia? Yang selalu bikin gue tenang?

Bisma menarik dagu gue. Bisma… aduh, gue gak bisa ngomong. Gimana saat orang yang kita cintai, tiduran di hadapan kita sekarang. Sedangkan jarak wajah gue ke wajah dia. Gak sampai 5 centi.

Desahan nafas Bisma jelas terasa berhembus ke wajah gue. “I Love You Hinata.” Ucapnya kemudian.

Gue gugup. Bisma tuh selalu bisa bikin gue kayak orang linglung. “Hemm.. I Love You too Naruto.” Jawab gue dengam mata tertutup, gue gak mau liat Bisma, entar gue gak bisa ngomong gara-gara gugup lagi.

“Melek dong ahh.. gak enak banget sih diliatnya.”Ikh… suara ‘Ahh’ nya tuh mendesah banget, kenapa sih nada bicaranya harus kayak gitu?

Gue coba membuka mata gue perlahan. –huuuaaa- sekarang makin dekat lagi, ‘kakak… Chika deg-degan..’ Gue membatin. Gue memejamkan mat ague lagi.

“Yeh.. baru juga sedetik, kok merem lagi sih mah?”

Tau ahh gelap.! Dia gak tau apa gue deg-degan kayak gini?
“Mah…” Lagi-lagi Bisma berkata mendesah. Bikin gue gak tahan. Gue masih gak bisa buka mata. “Hahahaha” Terasa Bisma yang melepaskan pegangannya di dagu gue. Dan suaranya agak jauh sekarang.  Gue coba ,e,buka mat ague, Bisma emang gak terlalu dekat sekarang. “ Kamu lucu deh, kenapa tadi aku gak photo muka kamu lagi kayak gitu aja ya? Hahaha.. linglung banget muka kamu mah.”

Ikh.. apaan sih? Masa muke gue dibilang kayak orang linglung sih? Tapi mungkin iya sih. Tapi kan Bisma sendiri yang bikin gue linglung.

“Ikh.. papah, aku fikir kamu mau ngapain.” Ahhh.. aku Keceplosan.! Tuh kan Bisma mulai natap gue lagi.

“Emang kamu mau apa?” Bisma tersenyum.

“Eng-nggak pa-pa kok.” Bisma natap gue lagi. Dia menarik dagu gue yang tadi baru di lepas, dan lagi-lagi mendekatkan wajahnya. Tapi kali ini gue gak mejamin mata. Tunggu aja keberanian Bisma sampai mana. Jujur..! meskipun kita terlihat mesra, tapi gue dan Bisma cuman baru sekali ciuman.

“Ngapain kalian?” Morgan datang mengagetkan. Ahh.. padahalkan gue dikit lagi kena bibirnya.

“Biasa orang pacaran. Ngapain lagi?” Bisma menjawab kemudian bangkit berdiri di samping Morgan.

“Ohh..”

“Ngapain Gan?” Tanya gue. Kayaknya Bisma gak suka deh liat Morgan datang.

“Gak, cuman liat keadaan loe aja. Gue ke ruang tamu lagi ya..” Morgan meninggalkan kamar gue.

“Ke taman belakang yuk mah, boring di sini terus.”

“Ayo..”

Bisma mengambil kursi roda gue, dia membopong tubuh gue, hingga duduk di kursi roda. Bisma mendorong kursi roda gue ke taman belakang rumah.

“Aku tinggal dulu ya.. mau ngambil photo. Aku mau kita photo-photo disini.”

“Iya..”

Gue memperhatikan bunga-bunga yang mulai tubuh. Dari belakang gue mendengar jejak langkah seseorang. “Pah,” gue panggil Bisma dan gak ada jawaban. Apa itu bukan Bisma? dia meraih pegangan tangan di krsi roda gue. “Ayo Chika, kita mulai dari awal permainannya.” Dia mendorong kursi roda gue hingga gue terjatuh. Kepala gue kayak terbentur sesuatu yang keras. Entah batu atau apa, rasanya ngilu bercampur sakit yang teramat sangat.


Siapa orang itu? Nantikan di part selanjutnya.